setelah saya pikir dan jalani.
ternyata ngepost di tambler tidak seenak ngepost di sini *ciye* :D
jadi saya akan menulis sesuatu yang galau.
sebelumnya sudah saya peringatkan oke, ini galau. krusial.
ini tentang masa depan.
sebelumnya saya memang memikirkan ini. tapi yowes.
mikir-mumet-ah luweh-rampung-menjalani hidup kembali-kepikiran-mumet meneh-luweh meneh-rampung meneh-menjalani hidup kembali meneh-kepikiran meneh-dan seterusnya meneh.
biasanya jarak antara 'kepikiran meneh' dan 'menjalani hidup kembali' itu lama.
tapi kali ini lain. LAIN!
ini aneh. ini tidak biasa. ini GALAU YANG BERBEDAAAAA!!!!!
...........
maaf, kalut.
huffff haaahh
jadi, sampai mana? oh iya.
ini berbeda. saya kepikiran kemudian mumet, tapi tidak bisa luweh.
sampai kapan saya harus luweh?
ini tidak bisa dibiarkan.
ini masa depan bung. luweh saja tidak cukup.
jadi saya terus terusan mumet.
ini awalnya dari buber di rumah edit.
jadi waktu itu mengomongkan cita-cita dan jurusan-jurusan begitu.
sudah pada mantap semuanya. ya bukan mantap, setidak e wes nduwe gambaran lah. mau kesini, kalo enggak ya kesini. ya kalo enggak ya kesitu. nanti ambil ini. habis ini gitu. terus gini.
lha aku?
lha kowe? lha kowe piye? lha kowe ngopo? lha kowe sopo? lha kowe wes usaha opo?
kita memang punya orang lain di dalam diri kita. ya kan? ora mung aku tok kan? tenan lho iki?
(btw, maaf ya saya emosional sekali nulis ini.)
terus perjalan pulang sampai masuk rumah sampai mau tidur sampai bangun saur sampai detik ini. SAYA KEPIKIRAN. aseeeeeeem sopo to sek mulai ngomongke cita-cita wingi! ah!
saya harus jadi apa? Tuhan nyuruh saya jadi apa ya?
saya udah tanya lho. apa karena dosa saya banyak ya, jadi pertanyaan saya nggak keangkat? Tuhan jadi nggak denger?
bagi yang dosanya sedikit, tolongin saya dong, tanyain Tuhan saya harus gimana? saya disuruh ngapain?
apa Tuhan udah mengabaikan saya ya? atau Dia lagi nyusun sekenario hidup saya?
saya disuruh ngapain? saya disuruh jadi apa?
Ya Allah, hamba yakin Engkau tahu Ya Allah.
hamba yakin Engkau paham kegalauan hamba.
bagaimanapun Engkau yang menciptakan makhluk seperti hamba begini.
Engkau juga yang menulis barbagai sekenario untuk hamba jalani.
Ya Allah, maka tolong pilihkan jalan untuk hamba.
Ya Allah, hamba tau, hamba ini bukan orang yang peka.
kalo mau ngasih tanda-tanda, tolong yang jelas ya Ya Allah.
Maaf banget lho Ya Allah, malah ngrepotin. Maaf bangeeeeeettttt
Senin, 22 Agustus 2011
Rabu, 15 Juni 2011
pindah omah
HALO SODARA-SODARA!
jadi ceritanya saya mau ngegaul. jadi saya membikin tambler.
tambler ki opo aku yo ra paham sakjane. yo cuma ikut-ikut biar gaul B)
INI TUMBLR
nah, jadi saya putuskan untuk lebih sering ngepost di sana.
njuk ngopo? yo rapopo, mung ngandani.
dada :))
jadi ceritanya saya mau ngegaul. jadi saya membikin tambler.
tambler ki opo aku yo ra paham sakjane. yo cuma ikut-ikut biar gaul B)
INI TUMBLR
nah, jadi saya putuskan untuk lebih sering ngepost di sana.
njuk ngopo? yo rapopo, mung ngandani.
dada :))
Jumat, 27 Mei 2011
Kamis, 05 Mei 2011
Rabu, 27 April 2011
balada jarum suntik part.1
lama nggak ngeblog :D
lama nggak crit crit.
mau cerita aaaah
jadi ceritanya waktu saya ke dokter gigi. sedirian.
karena ibu saya berkata bahwa saya harus mandiri. maka datanglah saya ke sana seorang diri.
awalnya aman-aman saja. waktu parkir juga aman. nah waktu mau masuk, di ruang tunggu luar terlihat seorang anak berbadan besar, berkulit hitam, bergaya rambut masa kini , sek dicukur sebagian kae lho, seusia saya kira2, nek nganggo kacamata ireng persis bodigart. yo kasarane dandanan ala gondes lah. dia terlihat menunggu antrian dengan ibunya. mereka berdua sama-sama mainan HP. mungkin smsan. yo sopo ngerti.
sayapun mendaftarkan diri. "sendiri dek?" "iya mbak" "kok kendhel" "ah malu" begitu bunyinya.
di ruang tunggu dalam. hanya ada ibu2 dan seorang mbak2 gaul yang bersama couo-nya. mereka bercengkrama. dan saya dengan mode anak ilang lupa jalan pulang duduk di sebelahnya mbak2 gaul dan couo-nya itu. sayapun sok2an membaca majalah yang sudah kadaluarsa.
singkat cerita saya menunggu dan menunggu. membaca dan terus membaca majalah kadaluwarsa itu.
giliran mbak gaul memasuki ruang praktik. ibu2nya udah pulang dari tadi. jadi tinggalah saya bersama dengan couo-nya mbak2 gaul di ruang tunggu itu.
jadi, di situ ada dua dokter. semacam praktik bersama kae lho. njuk masuknya dua-dua.
tiba2 mbaknya yang registrasi memanggil "dimas" begitu bunyinya.
masuklah sang gondes yang tadi nunggu di ruang tunggu luar dengan gayanya yang aduhai. disusul dibelakang sang ibu. sayapun masih membaca majalah.
suara dari ruang praktik
mungkin tipikal ibu-ibu, suka ngomongnya keras-keras jadi ya kedengeran sampe ruang tunggu
"iya ini dok. nggeyel banget anaknya. mbok kesini itu, nek mboten dipekso bapakne mboten gelem niku dok. elaaaaah"
"hahahaha"
"......"
"...."
".........."
"...."
"EMOOOOOOH! WEGAH! WEGAH AKU! BALI! MULIH! MULIIIIIIHHHHHH!!!"
tiba-tiba terdengar raungan dan rontaan. sayapun syok. masnya couo-nya mbaknya juga kaget.
"ORA POPO, ORA LORO!"
"WEGAAAAAH!"
"HEEESSSSH IKI KI BEN MARI ORA POPO! MBOTEN KROSO NGGIH PAK DOKTER NGGIH?"
"ehe mb.. mb... mboten kok b b buu. ndak sakit ini"
"WEGAH!! AKU MULIH! RA SENENG AKU!!" jegreeeeeeek pintu ruang praktik di buka paksa. sang gondespun berlari. ibunya menyusul.
"HEH! ORA POPO, ORA LORO! MBANGANE UNTUMU LORO TERUS"
"WEGAH!" ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeennggg dengan motor anak itupun berlalu meninggalkan ibunya.
saya terdiam.
"elaaaaah bocah kok nggeyel tenan!" terlihat ibu itu mutung. kembali ke dalam ruang praktik.
tak berapa lama,
dreeet det det det. (suoro motor mandek)
sang gondes itu kembali. dia mengintip-ngintip di pintu ruang praktik. dibukanya perlahan pintu itu.
"Mulih ra Buk?" katanya. pelan sekali suaranya
"ORA! KENE DI SUNTIK SEK. LAGI AKU GELEM MULIH"
"Yowes"
ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeengggg pergilah dia, meninggalkan ibunya sendirian lagi.
akhirnya ibu itupun sendirian disana. mungkin karena mutung dan sudah kadung.
"yaudah dok, saya aja yang diperiksa" akhirnya.
ibu itu yang periksa giginya. sesudah selesai. dia keluar. mungkin tidak tahu harus pulang dengan apa, dia menelepon suaminya. lagi-lagi keras sekali.
"Pak! kae lho. mbalah wegah! njuk mbalah lungo karo njerit2! aku di tinggal dewean!" "..." "yo!" tut tut tut.
-bersambung-
lama nggak crit crit.
mau cerita aaaah
jadi ceritanya waktu saya ke dokter gigi. sedirian.
karena ibu saya berkata bahwa saya harus mandiri. maka datanglah saya ke sana seorang diri.
awalnya aman-aman saja. waktu parkir juga aman. nah waktu mau masuk, di ruang tunggu luar terlihat seorang anak berbadan besar, berkulit hitam, bergaya rambut masa kini , sek dicukur sebagian kae lho, seusia saya kira2, nek nganggo kacamata ireng persis bodigart. yo kasarane dandanan ala gondes lah. dia terlihat menunggu antrian dengan ibunya. mereka berdua sama-sama mainan HP. mungkin smsan. yo sopo ngerti.
sayapun mendaftarkan diri. "sendiri dek?" "iya mbak" "kok kendhel" "ah malu" begitu bunyinya.
di ruang tunggu dalam. hanya ada ibu2 dan seorang mbak2 gaul yang bersama couo-nya. mereka bercengkrama. dan saya dengan mode anak ilang lupa jalan pulang duduk di sebelahnya mbak2 gaul dan couo-nya itu. sayapun sok2an membaca majalah yang sudah kadaluarsa.
singkat cerita saya menunggu dan menunggu. membaca dan terus membaca majalah kadaluwarsa itu.
giliran mbak gaul memasuki ruang praktik. ibu2nya udah pulang dari tadi. jadi tinggalah saya bersama dengan couo-nya mbak2 gaul di ruang tunggu itu.
jadi, di situ ada dua dokter. semacam praktik bersama kae lho. njuk masuknya dua-dua.
tiba2 mbaknya yang registrasi memanggil "dimas" begitu bunyinya.
masuklah sang gondes yang tadi nunggu di ruang tunggu luar dengan gayanya yang aduhai. disusul dibelakang sang ibu. sayapun masih membaca majalah.
suara dari ruang praktik
mungkin tipikal ibu-ibu, suka ngomongnya keras-keras jadi ya kedengeran sampe ruang tunggu
"iya ini dok. nggeyel banget anaknya. mbok kesini itu, nek mboten dipekso bapakne mboten gelem niku dok. elaaaaah"
"hahahaha"
"......"
"...."
".........."
"...."
"EMOOOOOOH! WEGAH! WEGAH AKU! BALI! MULIH! MULIIIIIIHHHHHH!!!"
tiba-tiba terdengar raungan dan rontaan. sayapun syok. masnya couo-nya mbaknya juga kaget.
"ORA POPO, ORA LORO!"
"WEGAAAAAH!"
"HEEESSSSH IKI KI BEN MARI ORA POPO! MBOTEN KROSO NGGIH PAK DOKTER NGGIH?"
"ehe mb.. mb... mboten kok b b buu. ndak sakit ini"
"WEGAH!! AKU MULIH! RA SENENG AKU!!" jegreeeeeeek pintu ruang praktik di buka paksa. sang gondespun berlari. ibunya menyusul.
"HEH! ORA POPO, ORA LORO! MBANGANE UNTUMU LORO TERUS"
"WEGAH!" ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeennggg dengan motor anak itupun berlalu meninggalkan ibunya.
saya terdiam.
"elaaaaah bocah kok nggeyel tenan!" terlihat ibu itu mutung. kembali ke dalam ruang praktik.
tak berapa lama,
dreeet det det det. (suoro motor mandek)
sang gondes itu kembali. dia mengintip-ngintip di pintu ruang praktik. dibukanya perlahan pintu itu.
"Mulih ra Buk?" katanya. pelan sekali suaranya
"ORA! KENE DI SUNTIK SEK. LAGI AKU GELEM MULIH"
"Yowes"
ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeengggg pergilah dia, meninggalkan ibunya sendirian lagi.
akhirnya ibu itupun sendirian disana. mungkin karena mutung dan sudah kadung.
"yaudah dok, saya aja yang diperiksa" akhirnya.
ibu itu yang periksa giginya. sesudah selesai. dia keluar. mungkin tidak tahu harus pulang dengan apa, dia menelepon suaminya. lagi-lagi keras sekali.
"Pak! kae lho. mbalah wegah! njuk mbalah lungo karo njerit2! aku di tinggal dewean!" "..." "yo!" tut tut tut.
-bersambung-
Sabtu, 19 Maret 2011
Langganan:
Postingan (Atom)