Kamis, 05 Mei 2011

dimana?

"Tuhan itu ada dimana?"

"Bukan Dia yang ada dimana, aku yang ada didalam-Nya"

podho-podho

"JANGAN MENYALAHKAN, 
KOYO KOWE KI RA TAU GAWE SALAH"

-kan podo-podo menungso dub

Rabu, 27 April 2011

balada jarum suntik part.1

lama nggak ngeblog :D
lama nggak crit crit.

mau cerita aaaah
jadi ceritanya waktu saya ke dokter gigi. sedirian.
karena ibu saya berkata bahwa saya harus mandiri. maka datanglah saya ke sana seorang diri.

awalnya aman-aman saja. waktu parkir juga aman. nah waktu mau masuk, di ruang tunggu luar terlihat seorang anak berbadan besar, berkulit hitam, bergaya rambut masa kini , sek dicukur sebagian kae lho, seusia saya kira2, nek nganggo kacamata ireng persis bodigart. yo kasarane dandanan ala gondes lah. dia terlihat menunggu antrian dengan ibunya. mereka berdua sama-sama mainan HP. mungkin smsan. yo sopo ngerti.

sayapun mendaftarkan diri. "sendiri dek?" "iya mbak" "kok kendhel" "ah malu" begitu bunyinya.
di ruang tunggu dalam. hanya ada ibu2 dan seorang mbak2 gaul yang bersama couo-nya. mereka bercengkrama. dan saya dengan mode anak ilang lupa jalan pulang duduk di sebelahnya mbak2 gaul dan couo-nya itu. sayapun sok2an membaca majalah yang sudah kadaluarsa.

singkat cerita saya menunggu dan menunggu. membaca dan terus membaca majalah kadaluwarsa itu.
giliran mbak gaul memasuki ruang praktik. ibu2nya udah pulang dari tadi. jadi tinggalah saya bersama dengan couo-nya mbak2 gaul di ruang tunggu itu.
jadi, di situ ada dua dokter. semacam praktik bersama kae lho. njuk masuknya dua-dua.
tiba2 mbaknya yang registrasi memanggil "dimas" begitu bunyinya.
masuklah sang gondes yang tadi nunggu di ruang tunggu luar dengan gayanya yang aduhai. disusul dibelakang sang ibu. sayapun masih membaca majalah.


suara dari ruang praktik
mungkin tipikal ibu-ibu, suka ngomongnya keras-keras jadi ya kedengeran sampe ruang tunggu
"iya ini dok. nggeyel banget anaknya. mbok kesini itu, nek mboten dipekso bapakne mboten gelem niku dok. elaaaaah"
"hahahaha"
"......"
"...."
".........."
"...."

"EMOOOOOOH! WEGAH! WEGAH AKU! BALI! MULIH! MULIIIIIIHHHHHH!!!"
tiba-tiba terdengar raungan dan rontaan. sayapun syok. masnya couo-nya mbaknya juga kaget.
"ORA POPO, ORA LORO!"
"WEGAAAAAH!"
"HEEESSSSH IKI KI BEN MARI ORA POPO! MBOTEN KROSO NGGIH PAK DOKTER NGGIH?"
"ehe mb.. mb... mboten kok b b buu. ndak sakit ini"
"WEGAH!! AKU MULIH! RA SENENG AKU!!" jegreeeeeeek pintu ruang praktik di buka paksa. sang gondespun berlari. ibunya menyusul.
"HEH! ORA POPO, ORA LORO! MBANGANE UNTUMU LORO TERUS"
"WEGAH!" ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeennggg dengan motor anak itupun berlalu meninggalkan ibunya.

saya terdiam.

"elaaaaah bocah kok nggeyel tenan!" terlihat ibu itu mutung. kembali ke dalam ruang praktik.

tak berapa lama,
dreeet det det det. (suoro motor mandek)
sang gondes itu kembali. dia mengintip-ngintip di pintu ruang praktik. dibukanya perlahan pintu itu.
"Mulih ra Buk?" katanya. pelan sekali suaranya
"ORA! KENE DI SUNTIK SEK. LAGI AKU GELEM MULIH"
"Yowes"
ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeengggg pergilah dia, meninggalkan ibunya sendirian lagi.

akhirnya ibu itupun sendirian disana. mungkin karena mutung dan sudah kadung.
"yaudah dok, saya aja yang diperiksa" akhirnya.
ibu itu yang periksa giginya. sesudah selesai. dia keluar. mungkin tidak tahu harus pulang dengan apa, dia menelepon suaminya. lagi-lagi keras sekali.
"Pak! kae lho. mbalah wegah! njuk mbalah lungo karo njerit2! aku di tinggal dewean!" "..." "yo!" tut tut tut.

-bersambung-

Minggu, 06 Maret 2011

no more

jadi cangung sekarang.
ah!
lagi lagi begini.
hanya tak ingin seperti yang itu terulang.
yang sekarang jadi seperti orang tak kenal begitu.
tak ingin lagi.

Duh Gusti, bukankah rasa ini untuk menjalin ukuwah seharusnya?
bukan malah menjadi benteng yang super tinggi. yang mengahalangi ukuwah kami?

sungguh untuk yang satu ini saja, jaga, jaga, jaga.
kalo perlu hilangkan saja.
biar tidak usah banyak pikir untuk sekedar bicara 'halo'
atau pusing memasang ekspresi yang seperti apa.
biar tidak ada kesalah tingkahan yang malah iyuh banget -..- yang sok-sokan diam.
hanya ingin biasa saja.
seperti dulu. biasa saja.
tertawa yang wajar seperti biasa.
ngobrol yang wajar seperti biasa.
saling sapa seperti biasa.
biasa. hanya biasa.

Sabtu, 26 Februari 2011

ngimpi

22 feb 2011

hari ini aku bermimpi,

bertemu banyak orang,
banyak sekali.

mereka yang memang sedang ingin ku temui.

sangat ingin sekali ku temui.
aku tak ingat sudah sampai mana bicara ngalor ngidul dengan mereka.
tertawa sampai menangis, menangis sampai tertawa.

seolah kita memang dilahirkan hanya untuk begitu.

hingga tiba-tiba aku tersentak sendiri. yang terlihat malah atap kamarku.
01.32.

FUK!

semua itu terasa sangat nyata. aku masih bisa merasakan kehangatan tawa mereka, nada bicara mereka, suara mereka. masih sangat terasa. seolah atap kamarku-lah yang mimpi itu.
bukan mereka.

aku katupkan kelopak mataku. memaksanya mengembalikan mereka.

aku tak ingin bangun. AKU. TAK. INGIN. BANGUN.
masih banyak yang belum ku ceritakan kepada mereka.

tetang hidup yang kian hari kian kompleks. tentangku yang sudah melukai ribuan hati. tentang lidahku yang mencincang banyak rasa. banyak. masih banyak. sangat banyak.

dimana lagi aku bisa bertemu mereka?
mereka yang sudah tidak bisa diajak walau hanya untuk sekedar berbincang soal kabarnya hari ini. aku tidak menyalahkan mereka soal itu. itu sudah tangungan. sudah masing-masing. aku hanya.. merindukan mereka.

aku masih berusaha mengatup-atupkan mata. tapi lebih kelihatan seperti orang kelilipan.

menyerah, duduk di pinggiran kasur, tertunduk. mataku memanas.

Kamis, 03 Februari 2011

pantaskah?

teringat tweet teman saya beberapa hari yang lalu "sudah pantaskah saya?"

njur jadi mikir (emang e iso mikir?)

..........................................................................................................................................................................
............................. tut tut tut clek

pantas

sakjane kepantasan ki diukur dari mana to?
apakah yo bisa manusia koyo awakdewe yang hanya bisa melihat yang terlihat iki bisa mengukur pantas apa tidaknya sesuatu?
apakah iso awakdewe ki melihat hatine orang? pikirane orang? batine orang? sek kadang-kadang malah bertentangan banget karo sikap e? karo kelakuane?
lalu siapa yang pantas menilai kepantasan itu sakjane?


nek sekarang saya lagi merasa sangat tidak pantas e.
kabeh iki terlalu gedhe buat orang koyo saya sek istilah e ngelap umbel we iseh sulit.
lagi merasa kayak make sepatu tapi kegedean.
dan sekarang saya pengen berusaha mengedekan kaki saya, biar pas sama sepatu itu.
bukankah semua iki hanyalah proses?
tapi sulitkah? seberapa lama ya proses 'pengedean kaki' itu?